<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>edukasiana</title>
	<atom:link href="http://edukasiana.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://edukasiana.com</link>
	<description>belajar tiada henti</description>
	<lastBuildDate>Fri, 15 Oct 2010 09:48:45 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Applet Interaktif Untuk Belajar Trigonometri</title>
		<link>http://edukasiana.com/?p=276</link>
		<comments>http://edukasiana.com/?p=276#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Oct 2010 09:23:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alat Peraga]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar Trigonometri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edukasiana.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
Bagaimana Anda mengajarkan bahwa sin(A+B)=sin A cos B + cos A sin B?  Untuk memahami trigonometri memang tidak mudah. Bagi kebanyakan siswa, trigonometri adalah kumpulan rumus yang sangat abstrak dan sulit dipahami. Keadaan ini membuat siswa barangkali lalu bosan atau malas untuk belajar lebih jauh.
Sebenarnya untuk dapat memahami materi trigonometri ini kita dapat menggunakan beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: left; margin-right: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fedukasiana.com%2F%3Fp%3D276"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fedukasiana.com%2F%3Fp%3D276&amp;source=edukasiana&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Bagaimana Anda mengajarkan bahwa sin(A+B)=sin A cos B + cos A sin B?  Untuk memahami trigonometri memang tidak mudah. Bagi kebanyakan siswa, trigonometri adalah kumpulan rumus yang sangat abstrak dan sulit dipahami. Keadaan ini membuat siswa barangkali lalu bosan atau malas untuk belajar lebih jauh.</p>
<p>Sebenarnya untuk dapat memahami materi trigonometri ini kita dapat menggunakan beberapa animasi/software yang dapat membantu untuk mempelajari. Misalkan pada contoh di atas mengapa sin(A+B) sama nilainya dengan  sin A cos B + cos A sin B.  Animasi interaktif berformat applet berikut dapat menjelaskan lebih terang (klik pada gambar).</p>
<p><a href="http://www.ies.co.jp/math/java/trig/kahote/kahote.html"><img src="http://i54.tinypic.com/2vbamm8.jpg" alt="trigonometry" /></a></p>
<p><applet code="http://www.ies.co.jp/math/java/trig/kahote/kahote.class" width=450 height=300><br />
<PARAM NAME="key1" VALUE="+"><br />
<PARAM NAME="key2" VALUE="-"><br />
<PARAM NAME="key3" VALUE="+"><br />
<PARAM NAME="key4" VALUE="-"></p>
<p><PARAM NAME="key5" VALUE="B"><br />
<PARAM NAME="key6" VALUE="A"><br />
<PARAM NAME="key7" VALUE="sin(A+B)"><br />
<PARAM NAME="key8" VALUE="cos(A+B)"><br />
<PARAM NAME="key9" VALUE="Characters"><br />
</applet></p>
<p>Untuk applet-applet lain yang menjelaskan tentang konsep trigonometri dapat diakses dari link berikut:</p>
<p><a href="http://www.ies.co.jp/math/java/trig/index.html">Applet Trigonometri</a><br />
Untuk menjalankan applet, browser Anda harus terinstal software Java.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edukasiana.com/?feed=rss2&amp;p=276</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH</title>
		<link>http://edukasiana.com/?p=266</link>
		<comments>http://edukasiana.com/?p=266#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 08:54:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kkn_uny</dc:creator>
				<category><![CDATA[Strategi Pembelajaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edukasiana.com/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
Ada beberapa cara menerapkan PBL dalam pembelajaran. Secara umum penerapan model ini dimulai dengan adanya masalah yang harus dipecahkan oleh peserta didik. Masalah tersebut dapat berasal dari peserta didik atau dari pendidik. Peserta didik akan memusatkan pembelajaran di sekitar masalah tersebut, dengan arti lain, peserta didik belajar teori dan metode ilmiah agar dapat memecahkan masalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: left; margin-right: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fedukasiana.com%2F%3Fp%3D266"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fedukasiana.com%2F%3Fp%3D266&amp;source=edukasiana&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: justify">Ada beberapa cara menerapkan PBL dalam pembelajaran. Secara umum penerapan model ini dimulai dengan adanya masalah yang harus dipecahkan oleh peserta didik. Masalah tersebut dapat berasal dari peserta didik atau dari pendidik. Peserta didik akan memusatkan pembelajaran di sekitar masalah tersebut, dengan arti lain, peserta didik belajar teori dan metode ilmiah agar dapat memecahkan masalah yang menjadi pusat perhatiannya. Pemecahan masalah dalam PBL harus sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah. Dengan demikian peserta didik belajar memecahkan masalah secara sistematis dan terencana.</p>
<p style="text-align: justify">Menurut Agus dalam buku cooperative learning, strategi pembelajaran berbasis masalah terdiri dari 5 fase atau langkah. Fase-fase dan perilaku tersebut merupakan tindakan berpola. Pola ini diciptakan agar hasil pembelajaran dengan pengembangan pembelajaran berbasis masalah dapat diwujudkan. Sintaks PBL adalah sebagai berikut :</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="text-align: center">
<td width="319" valign="top">Fase-fase</td>
<td width="319" valign="top">Perilaku pendidik</td>
</tr>
<tr>
<td width="319" valign="top">Fase 1 : memberikan orientasi tentang   permasalahannya kepada peserta didik.</td>
<td width="319" valign="top">Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran,   mendeskripsikan berbagai kebutuhan logistik penting dan memotivasi peserta   didik untuk terlibat dalam kegiatan mengatasi masalah.</td>
</tr>
<tr>
<td width="319" valign="top">Fase 2 : mengorganisasikan peserta didik   untuk meneliti</td>
<td width="319" valign="top">Pendidik membantu peserta didik   mendefinisikan dan mengoragnisasikan tugas-tugas belajar terkait dengan   permasalahannya.</td>
</tr>
<tr>
<td width="319" valign="top">Fase 3 : membantu investigasi mandiri dan   kelompok</td>
<td width="319" valign="top">Pendidik mendorong peserta didik untuk   mendapatkan informasi yang tepat, melaksanakan eksperimen, dan mencari   penjelasan dan solusi.</td>
</tr>
<tr>
<td width="319" valign="top">Fase 4 : mengembangkan dan mempresentasikan   artefak dan exhibit</td>
<td width="319" valign="top">Pendidik membantu peserta didik dalam   merencanakan dan menyiapkan artefak-artefak yang tepat, seperti laporan,   rekaman video, dan model-model serta membantu mereka untuk menyampaikannya   kepada orang lain.</td>
</tr>
<tr>
<td width="319" valign="top">Fase 5 : menganalisis dan mengevaluasi   proses mengatasi masalah</td>
<td width="319" valign="top">Pendidik membantu peserta didik melakukan   refleksi terhadap investigasinya dan proses-proses yang mereka gunakan.</td>
</tr>
</tbody>
<tr style="text-align: center">
</table>
<p>David Johnson and Johnson mengemukakan 5 langkah strategi PBL melalui kegiatan kelompok :</p>
<p>1)     Mendefinisikan masalah, yaitu merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang mengandung isu konflik, hingga siswa menjadi jelas masalah apa yang akan dikaji. Dalam kegiatan ini guru bisa meminta pendapat dan penjelasan siswa tentang isu-isu hangat yang menarik untuk dipecahkan.</p>
<p>2)     Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya masalah, serta menganalisis berbagai faktor baik faktor yang bisa menghambat maupun faktor yang dapat mendukung dalam penyelesaian masalah. Kegiatan ini bisa dilakukan dalam diskusi kelompok kecil, hingga akhirnya peserta didik dapat mengurutkan tindakan-tindakan prioritas yang dapat dilakukan sesuai dengan jenis penghambat yang diperkirakan.</p>
<p>3)     Merumuskan alternatif strategi, yaitu menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan melalui diskusi kelas. Pada tahapan ini setiap siswa didorong untuk berpikir mengemukakan pendapat dan argumentasi tentang kemungkinan setiap tindakan yang dapat dilakukan.</p>
<p>4)     Menentukan dan menerapkan strategi pilihan, yaitu pengambilan keputusan tentang strategi mana yang dapat dilakukan.</p>
<p>5)     Melakukan evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil. Evaluasi proses adalah evaluasi terhadap seluruh proses pelaksanaan kegiatan, evaluasi hasil adalah evaluasi terhadap akibat dari penerapan strategi yang diterapkan.(Wina Sanjaya, 2008 : 217-218)</p>
<p>Menurut John Dewey, penyelesaian masalah dilakukan melalui 6 tahap :</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="text-align: center">
<td width="253" valign="top"><strong>Tahap-tahap </strong></td>
<td width="253" valign="top"><strong>Kemampuan yang diperlukan</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="253" valign="top">Merumuskan masalah</td>
<td width="253" valign="top">Mengetahui dan merumuskan masalah secara jelas</td>
</tr>
<tr>
<td width="253" valign="top">Menelaah masalah</td>
<td width="253" valign="top">Menggunakan pengetahuan untuk memperinci, menganalisis masalah dari   beberapa sudut.</td>
</tr>
<tr>
<td width="253" valign="top">Merumuskan hipotesis</td>
<td width="253" valign="top">Berimajinasi dan menghayati ruang lingkup, sebab akibat, dan alternatif   penyelesaian.</td>
</tr>
<tr>
<td width="253" valign="top">Mengumpulkan dan mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian   hipotesis</td>
<td width="253" valign="top">Kecakapan mencari dan menyusun data. Menyajikan data dalam bentuk   diagram, gambar, dan table.</td>
</tr>
<tr>
<td width="253" valign="top">Pembuktian hipotesis</td>
<td width="253" valign="top">Kecakapan menelaah dan membahas data. Kecakapan menghubung-hubungkan dan menghitung, ketrampilan mengambil keputusan dan   kesimpulan.</td>
</tr>
<tr>
<td width="253" valign="top">Menentukan pilihan penyelesaian</td>
<td width="253" valign="top">Kecakapan membuat alternative penyelesaian<br />
Kecakapan menilai pilihan dengan memperhitungkan akibat yang akan   terjadi pada setiap pilihan.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: justify">Berdasarkan pendapat dari ketiga tokoh tersebut, maka dapat di simpulkan bahwa sintaks strategi pembelajaran berbasis masalah terdiri dari memberikan orientasi permasalahan kepada peserta didik, mendiagnosis masalah, pendidik membimbing proses pengumpulan data individu maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil.</p>
<p style="text-align: justify">Strategi pembelajaran berbasis masalah dapat diterapkan melalui kegiatan individu, tidak hanya melalui kegiatan kelompok. Penerapan ini tergantung pada tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan materi yang akan diajarkan. Apabila materi yang akan diajarkan dirasa membutuhkan pemikiran yang dalam, maka sebaiknya pembelajaran dilakukan melalui kegiatan kelompok, begitupula sebaliknya.</p>
<p>sumber : berbagai sumber</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edukasiana.com/?feed=rss2&amp;p=266</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembelajaran &#8220;PAKEM&#8221;</title>
		<link>http://edukasiana.com/?p=257</link>
		<comments>http://edukasiana.com/?p=257#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 01:50:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kkn_uny</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Strategi Pembelajaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edukasiana.com/?p=257</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
PAKEM terdapat empat pilar utama yaitu : Aktif, Kreatif, Efektif dan menyenangkan. Sedangkan huruf “P” merupakan pembelajaran yang didefinisikan sebagai pengorganisasian atau penciptaan atau pengaturan suatuu kondisi lingkungan yang sebaik – baiknya yang memungkinkan terjadinya belajar pada peserta didik. Dengan demikian pada waktu peserta didik belajar. Pilar – pilar PAKEM berikut harus dirancang :

1. Pembelajaran aktif, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: left; margin-right: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fedukasiana.com%2F%3Fp%3D257"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fedukasiana.com%2F%3Fp%3D257&amp;source=edukasiana&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: justify">PAKEM terdapat empat pilar utama yaitu : Aktif, Kreatif, Efektif dan menyenangkan. Sedangkan huruf “P” merupakan pembelajaran yang didefinisikan sebagai pengorganisasian atau penciptaan atau pengaturan suatuu kondisi lingkungan yang sebaik – baiknya yang memungkinkan terjadinya belajar pada peserta didik. Dengan demikian pada waktu peserta didik belajar. Pilar – pilar PAKEM berikut harus dirancang :</p>
<p style="text-align: justify">
1. Pembelajaran aktif, yaitu pembelajaran yang berpusat pada peserta didik ( student centered ). Untuk mengaktifkan peserta didik, kata kunci yang dapat dipegang uru adalah adanya kegiatan yang dirancangbuntuk dilakukan siswa baik kegiatan berpikir maupun berbuat. Fungsi dan peran guru lebih banyak sebagai fasilitator.</p>
<p style="text-align: justify">
Perbedaan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan guru adalah sebagai berikut :</p>
<table border="2" cellpadding="0" width="481">
<tbody>
<tr>
<td width="236" valign="top"><strong>Pembelajaran berpusat pada guru</strong></td>
<td width="245" valign="top"><strong>Pembelajaran berpusat pada siswa</strong><strong></strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="236" valign="top">· Guru sebagai pengajar</p>
<p>· Penyampaian materi pelajaran   dominan melalui ceramah</p>
<p>· Guru menentukan apa yang akan   diajarkan dan bagaimana siswa mendapatkan informasi yang mereka pelajari</td>
<td width="245" valign="top">· Guru sebagai fasilitator dan bukan   penceramah</p>
<p>· Fokus pembelajaran  pada siswa bukan Guru.</p>
<p>· Siswa aktif belajar</p>
<p>· Pembelajarran bersifat interaktif.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Perbedaan kegiatan siswa dan Guru pada strategi mengajar berpusat pata siswa :</p>
<table border="2" cellspacing="5" cellpadding="0" width="490">
<tbody>
<tr>
<td width="243" valign="top"><strong>Kegiatan guru pada strategi mengjar yang   berpusat pada Guru</strong></td>
<td width="246" valign="top"><strong>Kegiatan siswa pada strategi mengajar yang berpusat pada siswa</strong><strong></strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="243" valign="top">· Membacakan</p>
<p>· Menjelaskan</p>
<p>· Memberikan intruksi</p>
<p>· Memberikan Informasi</p>
<p>· Berceramah</p>
<p>· Pengaruh tugas – tugas</p>
<p>· Membimbing dalam Tanya jawab</td>
<td width="246" valign="top">· Bermain peran</p>
<p>· Menulis dengan kata – kata sendiri</p>
<p>· Belajar kelompok</p>
<p>· Memecahkan masalah</p>
<p>· Diskusi</p>
<p>· Mempraktikan ketrampilan</p>
<p>· Melakukan kegiatan penyidikan</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: justify">
2.Pembelajaran kratif, yaitu pembelajaran yang menstimulasi siswa untuk mengembangkan gagasannya dengan memanfatkan sumber belajar yang ada. Strategi mengajar untuk mengembangkan kreativitas siswa adalah :</p>
<p style="text-align: justify">
· Memberi kebebasan pada siswa untuk mengembangkan gagasan dan pengetahuan baru.</p>
<p>· Bersikap respek dan menghargai ide – ide siswa</p>
<p>· Penghargaan pada inisiatif dan kesadaran diri siswa</p>
<p>· Penekaranan pada proses bukan penilaian hasil akhir karya siswa</p>
<p>· Memberikan waktu yang cukup unuk siswa berpikir dan menghasilkan karya</p>
<p>· Mengajukan pertanyaan – pertanyaan untuk menggugah krativitas seperti : “ mengapa”, “ bagaimana” , “ apa yang terjadi jika….”, dan bukan pertanyaan “ apa” aau “kapan”.</p>
<p style="text-align: justify">
3. Pembelajaran efektive</p>
<p style="text-align: justify">
Secara harfiah efektive memiliki makna manjur, mujarab, berdampak, membawa pengaruh, memiliki akibat dan membawa hasil. Pembelajaran yang efektive adalah pembelajaran yang menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung ( seperti dicantumkan dalam  tujuan pembelajaran).</p>
<p style="text-align: justify">
4. Pembelajaran yang meyenagkan</p>
<p style="text-align: justify">
Menurut hasil penelitian, konsentrasi  yang tinggi terbukti meningkatkan hasil belajar. Dalam penelitian engenai otak dan pembelajaran mengungkapkan fakta yang mengejutkan, yaitu apabila sesuatu dipelajari secara sungguh – sungguh ( dimana perhatian yang tinggi dari seseorang tercurah ), maka struktur internal system saraf kimiawi seseorang berubah. Di dalam diri seseorang tercipta hal – hal baru seperti jaringan saraf baru, jalur elektris baru, asosiasi baru dan koneksi baru.</p>
<p style="text-align: justify">
Dave Meier ( 2002 : 36 ) memberikan pengertian menyenangkan atau <em>fun</em> sebagai suasana belajar dalam keadaan gembira. Susana gembira disini bukan berarti suasana rebut, hura – hura, kesenangan yang sembrono dan kemeriahan yang dangkal.
<p style="text-align: justify">
Ciri – cirri suasana belajar yang menyenangkan dan tidak menyenangkan diantaranya adalah :<br />
A.Ciri suasana belajar yang menyenangkan :</p>
<ol>
<li>Rileks</li>
<li>Bebas dari tekanan</li>
<li> Aman</li>
<li>Menarik</li>
<li>Bangkitnya minat belajar</li>
<li>Adanya keterlibatan penuh</li>
<li>Perhatian peserta didik tercurah</li>
<li>Lingkungan belajar menarik ( misalnya keadaan kelas terang, pengaturan tempat duduk leluasa untuk peserta didik bergerak )</li>
<li>Bersemangat</li>
<li>Perasaan gembira</li>
<li>Konsentrasi tinggi</li>
</ol>
<p>B. Ciri suasana belajar yang tidak menyenangkan</p>
<ol>
<li> Tertekan</li>
<li>Perasaan terancam</li>
<li>Perasaan menakutkan</li>
<li>Merasa tidak berdaya</li>
<li>Tidak bersemangat</li>
<li>Malas / tidak berminat</li>
<li>Jenuh / bosan</li>
<li>Suasana pembelajaran monoton</li>
<li>Pembelajaran tidak menarik siswa</li>
</ol>
<p style="text-align: justify">
Sumber : berbagai sumber</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edukasiana.com/?feed=rss2&amp;p=257</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Media Radio</title>
		<link>http://edukasiana.com/?p=255</link>
		<comments>http://edukasiana.com/?p=255#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 00:13:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi Informasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edukasiana.com/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
Telah banyak diketahui bahwa Media Audio merupakan media yang sangat sangat fleksibel, relatif murah, praktis dan ringkas serta mudah dibawa (portabel).  Media ini dapat digunakan baik untuk keperluan belajar berkelompok (group learning) maupun belajar individual ( Genel Wilkinson, 1984).
Media sebagai alat bantu pembelajaran selalu dimanfaatkan oleh pendidik dan peserta didik. Maka dari itu banyak jenis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: left; margin-right: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fedukasiana.com%2F%3Fp%3D255"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fedukasiana.com%2F%3Fp%3D255&amp;source=edukasiana&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: justify;">Telah banyak diketahui bahwa Media Audio merupakan media yang sangat sangat fleksibel, relatif murah, praktis dan ringkas serta mudah dibawa (portabel).  Media ini dapat digunakan baik untuk keperluan belajar berkelompok (group learning) maupun belajar individual ( Genel Wilkinson, 1984).</p>
<p style="text-align: justify;">Media sebagai alat bantu pembelajaran selalu dimanfaatkan oleh pendidik dan peserta didik. Maka dari itu banyak jenis media yang dapat digunakan sesuai dengan kondisi waktu, keuangan, maupun materi yang akan disampaikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap jenis media memiliki karakteristik dan kemampuan dalam menayangkan pesan dan informasi (Kemp, 1985). Sebagai contoh adalah kaset audio yang merupakan media auditif yang memberikan kontribusi maksimal untuk pembelajaran yang bersifat verbal seperti digunakan dalam pembelajaran bahasa dan bidang music.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemanfaatan media audio dalam pembelajaran dapat pula dikombinasikan denga media lain, seperti media cetak baik berbentuk teks maupun visual. Dalam  memanfaatkan media audio ada 3 model atau pola pembelajaran seperti:</p>
<p>a. Terintegrasi dengan media cetak</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini pemanfaatannya berbentuk modul/buku atau media cetak lainnya. Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan peserta didik harus sabar dan teliti, sebab peserta didik harus berulang kali mematikan audio dikarenakan harus melihat modul dan memutar kembali audio untuk menyimak kembali. Pengintegrasian dapat secara murni maupun semi terintegrasi.</p>
<p>b.Terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran di kelas</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hal ini pemanfaatanya langsung diintegrasikan dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Pada materi–materi tertentu memerlukan bantuan media audio.</p>
<p>c.Dimanfaatkan secara berdiri sendiri sebagai media audio interaktif</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam model ini, melalui media audio peserta didik diajak untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran, meski ajakan untuk ikut partisipasi tersebut sebenarnya hanyalah bersifat maya (semu). Dengan model interaktif seolah – olah terjadi komunikasi dua arah antara peserta didik dengan narrator yang membawakan materi pembelajaran dalam media audio.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk model pertama dan ketiga dapat dimanfaatkan secara individu maupun kelompok, serta dalam tempat dan waktu sesuai kebutuhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam media audio diperlukan juga pengetahuan tentang strategi penyampaiannya. Strategi ini digunakan dalam pelaksaan proses pembelajaran. Ada tiga komponen yang perlu diperhatikan dalam menetapkan strategi penyampaian pembelajaran, yaitu :</p>
<p>a. Media pembelajaran<br />
b. Interaksi siswa dengan media<br />
c.Bentuk (struktur) pembelajaran</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber :<br />
wordpress.com20081024jenis-dan-bentuk-program-audio.html</p>
<p><object id="doc_691964264037730" name="doc_691964264037730" height="700" width="500" type="application/x-shockwave-flash" data="http://d1.scribdassets.com/ScribdViewer.swf" style="outline:none;" ><param name="movie" value="http://d1.scribdassets.com/ScribdViewer.swf"><param name="wmode" value="opaque"><param name="bgcolor" value="#ffffff"><param name="allowFullScreen" value="true"><param name="allowScriptAccess" value="always"><param name="FlashVars" value="document_id=3608003&#038;access_key=key-r3h586k4nlf83kt7qp8&#038;page=1&#038;viewMode=list"><embed id="doc_691964264037730" name="doc_691964264037730" src="http://d1.scribdassets.com/ScribdViewer.swf?document_id=3608003&#038;access_key=key-r3h586k4nlf83kt7qp8&#038;page=1&#038;viewMode=list" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" height="700" width="500" wmode="opaque" bgcolor="#ffffff"></embed></object>	</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edukasiana.com/?feed=rss2&amp;p=255</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dampak TV bagi Anak</title>
		<link>http://edukasiana.com/?p=244</link>
		<comments>http://edukasiana.com/?p=244#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 05:44:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Frontpage]]></category>
		<category><![CDATA[Psikologi]]></category>
		<category><![CDATA[Ragam]]></category>
		<category><![CDATA[dampak negatif foto]]></category>
		<category><![CDATA[dampak tv untuk anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edukasiana.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		

TV sebagai media komunikasi massa yang sangat disukai oleh anak-anak dapat memberikan dampak terhadap perilaku mereka. Beberapa temuan menunjukkan bahwa perilaku anak cenderung kepada tindak kekerasan. Dr. Jesse Steinfield melaporkan studinya bahwa 94,3 % film kartun menyajikan adegan kekerasan, 81, 6 % sajian-sajian prime time menyuguhkan hal serupa. Selanjutnya diperkirakan anak-anak normal yang tumbuh di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: left; margin-right: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fedukasiana.com%2F%3Fp%3D244"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fedukasiana.com%2F%3Fp%3D244&amp;source=edukasiana&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p><img src="http://edukasiana.com/wp-content/uploads/2010/07/imagess.jpg"/>
<p style="text-align: justify;">TV sebagai media komunikasi massa yang sangat disukai oleh anak-anak dapat memberikan dampak terhadap perilaku mereka. Beberapa temuan menunjukkan bahwa perilaku anak cenderung kepada tindak kekerasan. Dr. Jesse Steinfield melaporkan studinya bahwa 94,3 % film kartun menyajikan adegan kekerasan, 81, 6 % sajian-sajian prime time menyuguhkan hal serupa. Selanjutnya diperkirakan anak-anak normal yang tumbuh di tahun 60 an dan awal 1970 an telah menelan 20.000 sajian kekerasan di TV saat mereka berusia 19 tahun. Zhao Yuhui, melaporkan bahwa pada tahun 1986 ada seri TV berjudul Garrison’s Gorillas di TV China. Karena tayangan tersebut kemudian banyak bermunculan kelompok-kelom-pok Garrison’s Gorillas di SMP bahkan SD. Mereka melempar batu-batu ke jendela sekolah dan merusak bangku. Banyak guru dan orangtua protes sehingga tayangan di China Central TV tersebut kemudian distop. (Unesco, 1994).</p>
<p style="text-align: justify;">koran-koran di Singapura melaporkan poling pendapat yang dilakukan oleh pihak kepolisian kepada 50 pemuda yang terlibat pada tindak kekerasan. Ditemukan bahwa kebanyakan dari mereka suka menikmati film-film kekerasan di TV, melihat orang-orang dipukul atau dibunuh dilayar kaca tersebut ( Unesco, 1994) Sebuah survey pernah dilakukan Christian Science Monitor (CSM) tahun 1996 terhadap 1.209 orang tua yang memiliki anak umur 2 – 17 tahun. Terhadap pertanyaan seberapa jauh kekerasan di TV mempengaruhi anak, 56% responden menjawab amat mempengaruhi. Sisanya, 26% mempengaruhi, 5% cukup mempengaruhi, dan 11% tidak mempengaruhi.  Studi tim dari Universitas Massachusetts, Amherst, AS, menemukan ketika anak-anak yang berusia tiga tahun ke bawah bermain di dalam ruangan yang ada televisi, waktu bermain mereka 5% lebih singkat ketimbang jika tidak ada televisi. Keberadaan televisi juga membuat mereka tidak fokus saat bermain. Studi yang dimuat dalam Child Development edisi Juli/Agustus itu melibatkan 50 balita yang berusia antara 12, 24, dan 36 bulan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dr Daniel Bronfin dari Ochsner Health System, New Orleans, mengungkapkan televisi berpotensi menaikkan risiko terjadinya gangguan perilaku pada anak-anak, seperti kesulitan memusatkan perhatian dan hiperaktivitas. American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan agar anak-anak berusia dua tahun atau kurang tidak diberi akses menonton televisi.</p>
<p style="text-align: justify;">Temuan YLKI, yang juga mencatat bahwa film kartun bertemakan kepahlawanan lebih banyak menam-pilkan adegan anti sosial (63,51%) dari pada adegan pro sosial (36,49%). Begitu pula tayangan film lainnya khususnya film import membawa muatan negatif, misalnya film kartu Batman dan Superman menurut hasil penelitian Stein dan Friedrich di AS menunjukan bahwa anak-anak menjadi lebih agresif yang dapat dikatagorikan anti sosial setelah mereka menonton film kartun seperti Batman dan Superman.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber :</p>
<p style="text-align: justify;">(<a href="http://korananakindonesia.wordpress.com/2010/05/09/waspadai-gejalanya-pengaruh-kekerasan-televisi-pada-anak/">http://korananakindonesia.wordpress.com/2010/05/09/waspadai-gejalanya-pengaruh-kekerasan-televisi-pada-anak/</a>)</p>
<p style="text-align: justify;">(<a href="http://mancung64.wordpress.com/2008/08/19/pengaruh-tv-terhadap-perilaku-anak/">http://mancung64.wordpress.com/2008/08/19/pengaruh-tv-terhadap-perilaku-anak/</a>)</p>
<p style="text-align: justify;">.( <a href="http://www.aber.ac.uk/media/Modules/TF33120/tv-violence_and_kids.html">http://www.aber.ac.uk/media/Modules/TF33120/tv-violence_and_kids.html</a><em>)</em></p>
<p style="text-align: justify;">(<a href="http://www.kff.org/entmedia/upload/Key-Facts-TV-Violence.pdf">http://www.kff.org/entmedia/upload/Key-Facts-TV-Violence.pdf</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edukasiana.com/?feed=rss2&amp;p=244</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tumbuhkan Motivasi Belajar</title>
		<link>http://edukasiana.com/?p=240</link>
		<comments>http://edukasiana.com/?p=240#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jul 2010 07:12:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Strategi Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[bagaimana motivasi belajar]]></category>
		<category><![CDATA[menumbuhkan motivasi belajar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edukasiana.com/?p=240</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
Pada pembelajaran matematika seringkali siswa merasa kesulitan memahami pelajaran yang diberikan guru, kurang motivasi untuk mengikuti pelajaran bahkan menjadi matematika sebagai mata pelajaran yang paling menakutkan bagi mereka. Hal ini terjadi karena sampai saat ini masih banyak guru menggunakan metode pembelajaran yang disebut metode konvensional, yaitu guru membacakan atau memberikan bahan yang di siapkannya sedangkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: left; margin-right: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fedukasiana.com%2F%3Fp%3D240"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fedukasiana.com%2F%3Fp%3D240&amp;source=edukasiana&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: justify;">Pada pembelajaran matematika seringkali siswa merasa kesulitan memahami pelajaran yang diberikan guru, kurang motivasi untuk mengikuti pelajaran bahkan menjadi matematika sebagai mata pelajaran yang paling menakutkan bagi mereka. Hal ini terjadi karena sampai saat ini masih banyak guru menggunakan metode pembelajaran yang disebut metode konvensional, yaitu guru membacakan atau memberikan bahan yang di siapkannya sedangkan siswa mendengarkan, mencatat dengan teliti dan mencoba menyelesaikan soal sebagai mana yang di contohkan oleh guru.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal tersebut menjadi pasif, dalam pembelajaran matematika seharusnya siswa haruslah aktif belajar sehingga mempunyai kemampuan untuk mengembangkan kreatifitasnya serta lebih dapat memahami pelajaran dan terampil dalammenyelesaikan permasalahan matematika, oleh sebab itu guru hendaknya mampu memilih dan menerapkan model pembelajaran yang mampumerangsang siswa lebih aktif dalam belajar serta meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami siswa dalam memahami pelajaran dan Selama ini kebanyakan para guru menganggap tinggi rendahnya motivasi belajar telaletak pada murid sendiri. Oleh sebab itu siswa sendirilah yang dapat meningkatkan motivasi belajarnya, namun sesungguhnya guru juga dapat meningkatkan motivasi belajar pada siswa.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk meningkatakan motifasi pada siswa guru seharusnya merancang lingkungan belajar yang kondusif seperti mengunakan metode pembelajaran melalui proyek,pembelajaran berabasis masalah, <em>discovery learning, collaboratif dan cooperatif learning</em> dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Untuk kegiatan yang dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa seperti debat,penyejian hasil kerja kelompok, membuat makalah, membuat catatan harian, atau catatan yang dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.</p>
<p style="text-align: justify;">Keller (1983) mengembangkan prinsip moivasi yang di sebut model ARCS</p>
<p style="text-align: justify;">1.<em>Atention</em> (perhatian)</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk memancing perhatian siswa, guru dapat mengemukakan hal – hal yang baru, aneh (ganjil), kontradiktif sehingga dapat menumbuhkan perhatian siswa pada gurunya.</p>
<p style="text-align: justify;">2.<em>Relevance,</em> (relevansi)</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu upaya menghubungkan materi pelajaran dengan kondisi nyata dan kebutuhan siswa, untuk itu guru perlu menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin d capai serta manafaat pengetahuan atau ketarampilan bagi kehidupan siswa.</p>
<p style="text-align: justify;">3.<em> Convidence,</em>( kepercayaan diri)</p>
<p style="text-align: justify;">Memiliki kepercayaan akan kemampuan dan potensi merupakan syarat penting untuk mengembangkan sikap positif terhadap belajar,</p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em>4. <em>Statisfaction</em> (kepuasan)</p>
<p style="text-align: justify;">Keberhasilan akan menimbulkan kepuasan, maka agar siswa memperoleh kepuasan belajar maka haragailah keberhasilanya, semisal dengan pujian maupun hadiah.</p>
<p style="text-align: justify;">sumber : berbagai sumber</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edukasiana.com/?feed=rss2&amp;p=240</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komparasi Pembelajaran Konvensional dan Pembelajaran Aktif</title>
		<link>http://edukasiana.com/?p=233</link>
		<comments>http://edukasiana.com/?p=233#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jul 2010 03:02:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Strategi Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[active learning]]></category>
		<category><![CDATA[pembelajaran aktif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edukasiana.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
Belajar merupakan keharusan bagi siapapun, selama manusia itu masih hidup pasti membutuhkan belajar, karena belajar orang tidak tahu berubah menjadi tahu, orang yang tidak mengerti menjadi mengerti.Pendapat C.Asri Budiningsih, pengertian belajar adalah membangun makna, pengertian, pemahaman terhadap pengalaman, informasi oleh si pembelajar yang disaring melalui persepsi, pikiran dan perasaan, serta diberi kesempatan untuk didorong mengeluarkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: left; margin-right: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fedukasiana.com%2F%3Fp%3D233"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fedukasiana.com%2F%3Fp%3D233&amp;source=edukasiana&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: justify;">Belajar merupakan keharusan bagi siapapun, selama manusia itu masih hidup pasti membutuhkan belajar, karena belajar orang tidak tahu berubah menjadi tahu, orang yang tidak mengerti menjadi mengerti.Pendapat C.Asri Budiningsih, pengertian belajar adalah membangun makna, pengertian, pemahaman terhadap pengalaman, informasi oleh si pembelajar yang disaring melalui persepsi, pikiran dan perasaan, serta diberi kesempatan untuk didorong mengeluarkan ungkap pikiran , ungkap pendapat. Jadi belajar adalah memproduksi gagasan bukan mengkonsumsi gagasan.  Untuk itu di harapkan para Guru untuk :</p>
<p>1.            Tidak kikir untuk memuji</p>
<p>2.            Tidak mempermalukan siswa</p>
<p>3.            Tanamkan rasa “Tidak takut salah”</p>
<p>4.            Tanamkan keyakinan “Saya bisa” atau “Percaya diri”</p>
<p>5.           Tidak menjawab langsung, pertanyaan siswa lemparkan pertanyaan tersebut pada siswa lain</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana seorang guru dapat menciptakan suasana yang mengembangkan inisiatif dan tanggung jawab belajar si pembelajar ke arah belajar seumur hidup dengan melalui komponen Belajar Aktif. Oemar Hamalik misalnya, mengemukakan ada sejumlah manfaat atau kegunaan dari kegiatan pembelajaran aktif, antara lain:</p>
<ol>
<li> Siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri.</li>
<li>Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek kepribadian siswa.</li>
<li>Memupuk kerjasama yang harmonis di kalangan para siswa yang pada gilirannya dapat memperlancar kerja kelompok.</li>
<li>Siswa belajar dan bekerja berdasarkan minat dan kemampuan sendiri, sehingga sangat bermanfaat dalam rangka pelayanan perbedaan individual.</li>
<li>Memupuk disiplin belajar dan suasana belajar yang demokratis dan kekeluargaan, musyawarah dan mufakat.</li>
</ol>
<p>Berikut adalah komparasi metode belajar ceramah/konvensional dengan metode belajar aktif.Dale (1969)</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="text-align: center;">
<td width="216" valign="top">Model pembelajaran</td>
<td colspan="2" width="230" valign="top">Kemampuan Mengingat</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="216" valign="top"></td>
<td width="140" valign="top">setelah 3   jam</td>
<td width="90" valign="top">setelah 3   hari</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="216" valign="top">Ceramah   verbal (satu arah)</td>
<td width="140" valign="top">25%</td>
<td width="90" valign="top">10-20%</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="216" valign="top">Membaca/menulis</td>
<td width="140" valign="top">72%</td>
<td width="90" valign="top">10%</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td width="216" valign="top">Visual dan   verbal (<em>illustrated lecture</em>)</td>
<td width="140" valign="top">80%</td>
<td width="90" valign="top">65%</td>
</tr>
<tr style="text-align: center;">
<td style="text-align: center;" width="216" valign="top">Partisipasi   (<em>role plays</em>, studi kasus, aktif lerning,dsbg)</td>
<td width="140" valign="top">90%</td>
<td width="90" valign="top">70%</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sumber :</p>
<p><a href="http://www.inspiredkidsmagazine.com/ArtikelEducation.php?artikelID=75">http://www.inspiredkidsmagazine.com/ArtikelEducation.php?artikelID=75</a></p>
<p><a href="http://www.tiranus.net/teori-belajar-aktif-dalam-pembelajaran-pak/">http://www.tiranus.net/teori-belajar-aktif-dalam-pembelajaran-pak/</a></p>
<p>http://www.pacamat.com/memahami-metode-belajar-aktif/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edukasiana.com/?feed=rss2&amp;p=233</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adobe target para &quot;hacker&quot;</title>
		<link>http://edukasiana.com/?p=227</link>
		<comments>http://edukasiana.com/?p=227#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jul 2010 01:18:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi Informasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edukasiana.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
dari laporan lab antivrus kaspersky menyebutkan bahwa saat ini target utama para hacker, peretas serta pembuat virus dunia  adalah produk dari adobe, karena produk yang multi-platform dan sering digunakan, virus tersebut  dari keluarga Exploit.Win32.Pdfka. virus ini kebanyakan menyerang adobe Reader dan Adobe Acrobat.
virus &#8211; virus yang menyerang adobe yakni :  Exploit.Win32.Pdfka dan Exploit.Win32.Pidief semua ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: left; margin-right: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fedukasiana.com%2F%3Fp%3D227"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fedukasiana.com%2F%3Fp%3D227&amp;source=edukasiana&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p style="text-align: justify;">dari laporan lab antivrus kaspersky menyebutkan bahwa saat ini target utama para hacker, peretas serta pembuat virus dunia  adalah produk dari adobe, karena produk yang multi-platform dan sering digunakan, virus tersebut  dari keluarga Exploit.Win32.Pdfka. virus ini kebanyakan menyerang adobe Reader dan Adobe Acrobat.</p>
<p style="text-align: justify;">virus &#8211; virus yang menyerang adobe yakni :  Exploit.Win32.Pdfka dan Exploit.Win32.Pidief semua ini menyerang produk dari adobe dengan jumlah total 47,5% yang hampir mendekati separuh dari total sarangan yang terdetaksi Kaspersky Lab.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu dari pantauan Kaspersky Lab selama  tiga bulan pertama tahun 2010, ada tiga produk yang rentan terhadap serangan yakni pada produk Adobe, enam ditemukan di produk Microsoft, dan satu ditemukan di produk Sun</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga kerentanan yang menyasar program Adobe tersebut ditemukan pada 23,37 %, 17,87%, dan 15,27 % dari seluruh komputer yang diperiksa oleh Kaspersky lab. Kerentanan pertama dan terakhir merupakan kerentanan kritis yang memungkinkan peretas mengambil kendali penuh atas sistem secara jarak jauh.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu banyak para pemakai program dari Adobe yang tidak menginstalasi  patch yang dirancang untuk menghapus kerentanan peranti lunak tersebut oleh karena itu produk yang tidak ter-instalasi patch akan rentan terahadap serangan virus. Dari fakta tersebut  pada tanggal 13 April lalu, Adobe meluncurkan update otomatis yang berjalan di background. Oleh karena itu untuk mengatasi serangan ini pengguna Adobe  memperbaruhi produk yang di gunakan.</p>
<p style="text-align: justify;">sumber : KOMPAS.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edukasiana.com/?feed=rss2&amp;p=227</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penggunaan Azas Chavaliery dan Implikasinya</title>
		<link>http://edukasiana.com/?p=223</link>
		<comments>http://edukasiana.com/?p=223#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 02:48:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edukasiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Frontpage]]></category>
		<category><![CDATA[Matematika]]></category>
		<category><![CDATA[Azas Chavaliery]]></category>
		<category><![CDATA[penerapan Azas Chavaliery]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edukasiana.com/?p=223</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
Perhatikan dua persoalan di bawah ini. Pikirkanlah bagaimana cara menyelesaikannya.
Problem 1
Gambar 1 di bawah adalah segitiga dengan panjang alas AB = 13 cm dan tinggi 10 cm.  Bagaimana dengan luas segitiga yang terjadi bila alas AB tetap, sementara titik tinggi C digeser sejauh 100 km ke kanan?

Problem 2
Perhatikan area tanah kosong di Gambar 2. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: left; margin-right: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fedukasiana.com%2F%3Fp%3D223"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fedukasiana.com%2F%3Fp%3D223&amp;source=edukasiana&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Perhatikan dua persoalan di bawah ini. Pikirkanlah bagaimana cara menyelesaikannya.</p>
<p><strong>Problem 1</strong><br />
Gambar 1 di bawah adalah segitiga dengan panjang alas AB = 13 cm dan tinggi 10 cm.  Bagaimana dengan luas segitiga yang terjadi bila alas AB tetap, sementara titik tinggi C digeser sejauh 100 km ke kanan?</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://i50.tinypic.com/andgev.jpg" border="0" alt="artikel matematika" /></p>
<p><strong>Problem 2</strong><br />
Perhatikan area tanah kosong di Gambar 2. Bagian kiri adalah tanah milik Ando sedang tanah di sebelah kanan dimiliki Undo. Batas tanah yang tidak lurus tersebut menyulitkan mereka dalam membangun rumah.</p>
<p>Mereka ingin membuat batas baru yang lurus tetapi luas tanah masing-masing tidak berubah. Dapatkah Anda membantu mereka? Bagaimana caranya?</p>
<p style="text-align: center;">Sekarang perhatikan Azas Chavaliery pada segitiga di bawah ini.<br />
<img class="aligncenter" src="http://i47.tinypic.com/2cfp27q.jpg" border="0" alt="makalah matematika" /></p>
<p>Azas Chavaliery pada segitiga berbunyi: “Bila panjang setiap irisan dengan tinggi yang sama pada dua buah segitiga adalah sama maka kedua segitiga tersebut memiliki luas yang sama”.  Untuk memahami azas ini (terutama bagi siswa) cukup dengan menggunakan peraga berupa batang-batang kecil memanjang yang susunannya membentuk segitiga.</p>
<p>Nah, bila kita menggeser secara seragam batang-batang ini maka segitiga baru yang terbentuk tentu memiliki luas yang sama, karena tersusun dari batang-batang yang sama. Untuk segitiga yang sempurna maka kita dapat mengandaikan batang-batangnya sangat kecil sehingga lekukan antar batang dapat diabaikan.<br />
Pendekatan induktif-intuitif ini dapat digunakan untuk membantu siswa dalam memahami “kekekalan” luas pada segitiga dengan panjang alas dan tinggi yang sama. Jadi, tidak semata-mata mengajarkan rumus luas segitiga, tetapi memaknainya juga.  Implikasinya?  Pertama, jelas bahwa siswa lebih mudah memahami rumus luas segitiga (tidak sekedar menghafal kata-kata “alas” dan “tinggi”).  Kedua, pemahaman ini membawa implikasi dalam menjawab persoalan lain secara “cerdas”. Dua di antaranya dipaparkan di bagian muka.<br />
<strong>Jawaban problem 1</strong>: Tetap sama luasnya.<br />
<strong>Jawaban problem 2</strong>: Perhatikan bahwa beberapa solusinya adalah garis KL atau MN di bawah ini (Smd).</p>
<p><img src="http://i48.tinypic.com/34i1sf9.jpg" border="0" alt="matematika" /></p>
<p><em>Dikutip dari Buletin Ringan Unit Riset Pengembangan PPPPTK Matematika</em> &#8211; <em>Penulis: Sumardyono</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edukasiana.com/?feed=rss2&amp;p=223</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rahasia Pintu Gerbang Edison</title>
		<link>http://edukasiana.com/?p=217</link>
		<comments>http://edukasiana.com/?p=217#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 02:29:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>edukasiana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Frontpage]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[cerita inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kisah inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[pintu edison]]></category>
		<category><![CDATA[rahasia pompa air edison]]></category>
		<category><![CDATA[rahasia thomas edison]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edukasiana.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[
			
				
			
		
Thomas Alva Edison, penemu terkenal, tinggal di sebuah rumah dengan taman depan yang besar dan sebuah gerbang besi di pintu masuk. Setiap kali teman-temannya datang untuk berkunjung, mereka harus membuka pintu gerbang dengan susah payah karena pintu itu cukup besar dan berat. Mereka mengeluh dan meminta kepada Thomas untuk memperbaiki pintu gerbang tua yang berderak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="tweetmeme_button" style="float: left; margin-right: 10px;">
			<a href="http://api.tweetmeme.com/share?url=http%3A%2F%2Fedukasiana.com%2F%3Fp%3D217"><br />
				<img src="http://api.tweetmeme.com/imagebutton.gif?url=http%3A%2F%2Fedukasiana.com%2F%3Fp%3D217&amp;source=edukasiana&amp;style=normal" height="61" width="50" /><br />
			</a>
		</div>
<p>Thomas Alva Edison, penemu terkenal, tinggal di sebuah rumah dengan taman depan yang besar dan sebuah gerbang besi di pintu masuk. Setiap kali teman-temannya datang untuk berkunjung, mereka harus membuka pintu gerbang dengan susah payah karena pintu itu cukup besar dan berat. Mereka mengeluh dan meminta kepada Thomas untuk memperbaiki pintu gerbang tua yang berderak itu. Edison hanya menjanjikan untuk memberi minyak engsel dan akan memperbaiki pintu gerbang itu, tetapi hal itu tidak pernah terrealisasi.<br />
<img src="http://i47.tinypic.com/v2zejo.jpg" border="0" alt="thomas alva edison in library and gate door pump water" /></p>
<p>Setelah kematiannya pada usia lanjut (84), orang baru mengetahui rahasia dari pintu gerbang berat itu: gerbang itu terhubung kepada alat-alat mekanis rumit yang terdiri atas beberapa pengungkit besi, kerekan dan pompa-pompa, dan setiap kali pintu dibuka, air sebanyak 8 galon akan otomatis dipompa ke bak mandi Edison. Orang ini memang benar-benar jenius!</p>
<p><em>sumber: http://www.sitsite.com/blog/2008/12/energy-solutions-with-an-sit-twist/</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edukasiana.com/?feed=rss2&amp;p=217</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

