Metapora Scaffolding pada Teori Pembelajaran (Matematika)

Share
Model pembelajaran matematika dapat dilihat pada hubungan interaksi antara guru dan siswa. Jika guru lebih banyak berperan maka pembelajaran lebih pada metode ceramah atau ekspositari, sedang bila siswa lebih dominan maka lebih kearah pembelajaran inquiri. Model pembelajaran satu arah ini merupakan kasus ekstrim yang tentu tidak cocok untuk kebanyakan siswa. Maka diperlukan batasan seberapa jauh [...]

Model pembelajaran matematika dapat dilihat pada hubungan interaksi antara guru dan siswa. Jika guru lebih banyak berperan maka pembelajaran lebih pada metode ceramah atau ekspositari, sedang bila siswa lebih dominan maka lebih kearah pembelajaran inquiri. Model pembelajaran satu arah ini merupakan kasus ekstrim yang tentu tidak cocok untuk kebanyakan siswa. Maka diperlukan batasan seberapa jauh “dukungan guru” dan seberapa jauh “kebebasan siswa” dalam proses pembelajaran. Dalam kaitan ini muncul istilah scaffolding yang notabene merupakan istilah pada ilmu teknik sipil berupa bangunan kerangka sementara (biasanya terbuat dari bambu, kayu, atau batang besi) yang memudahkan pekerja membangun gedung. Metapora ini harus secara jelas dipahami agar kebermaknaan pembelajaran dapat tercapai.

Istilah ini digunakan pertama kali oleh Wood, dkk tahun 1976, dengan pengertian “dukungan guru kepada siswa untuk membantunya menyelesaikan proses belajar yang tidak dapat diselesaikannya sendiri”. Pengertian dari Wood ini sejalan dengan pengertian ZPD (Zone of Proximal Development) dari Vyotsky. Siswa yang banyak tergantung pada dukungan guru untuk mendapatkan pemahaman berada di luar daerah ZPD-nya, sedang siswa yang bebas atau tidak tergantung dari dukungan guru telah berada dalam daerah ZPD-nya.

Nah, yang harus diingat bahwa kapan kita tahu bahwa siswa tidak dapat menemukan sendiri?  Tentu bukan pada seluruh ranah materi, karena tentu saja siswa belajar apa yang ia belum tahu.  Persoalannya menjadi wilayah praktis di mana guru harus meampu membaca pikiran siswa (dari prilakunya) apakah siswa mentok atau masih memiliki arah yang benar dalam proses belajarnya. Dalam hal ini komponen “karakteristik siswa” dan “waktu berpikir/bekerja” perlu diperhatikan. Siswa yang tergolong pandai tentu diberi tenggang waktu yang tidak lebih lama dari siswa yang performansinya lebih rendah.

Hal lainnya adalah arti “dukungan”. Ini tidak mengisyaratkan bahwa guru memberi tahu “jawaban” tetapi lebih pada memberi “hint” atau “pilihan strategi” agar siswa sendiri yang memilih dan mencobanya. (smd)

Bacaan:

  • Anghileri, Scaffolding practices that enhance mathematics learning
  • Rachel R. Van Der Stuyf , Scaffolding as a Teaching Strategy
  • Siemon & Vergona, Identifying and describing teacher`s scaffolding practices in mathematics

Dikutip dari Buletin RINGAN Unit RP (R&D) PPPPTK Matematika. Kritik-saran hub. 08175451015, 081328835087, atau psw 247

Tags:

One Comment

  1. afid on March 18, 2010 | Permalink

    china pintar matematika adalah sebuah keharusan?
    jumlah pnduduk mreka byk, jd mau tdk mau mreka sjak dilahirkan harus mulai blajar menghitung, brapa saudara mreka, brapa tetangga mereka, apakah saya akan kebagian makan atau gak?
    heheheheh. tentu itu lelucon mski itu ada kaitannya jg………
    tp yg jelas mreka pintar krn mereka disiplin dan mreka jg harus bersaing, dalam hal ini adalah skill krn matematika bukan bawaan sjak lahir pasti bisa, tapi matematika adalah permainan siapa yang serius dengan permainan maka mreka akan mahir permainan tersebut..
    penjelasan geografis dan peta penduduk, politik juga ikut berpengaruh signifikan, tapi saya rasa cukup sampai disini dulu aku berkomentar, takut dibilang bawel heheheh

KIRIMKAN KOMENTAR

Email tidak kami publikasikan. Required fields are marked *

*
*

EDUKASIANA MOBILE

Edukasiana dapat juga diakses menggunakan perangkat telepon seluler yang mendukung Java

Silahkan download aplikasi Java MIDP berformat JAR berikut dan silahkan ditransfer/diinstal di ponsel Anda.

Download Edukasiana Mobile

TAG CLOUD

-->