Dampak TV bagi Anak

Share

TV sebagai media komunikasi massa yang sangat disukai oleh anak-anak dapat memberikan dampak terhadap perilaku mereka. Beberapa temuan menunjukkan bahwa perilaku anak cenderung kepada tindak kekerasan. Dr. Jesse Steinfield melaporkan studinya bahwa 94,3 % film kartun menyajikan adegan kekerasan, 81, 6 % sajian-sajian prime time menyuguhkan hal serupa. Selanjutnya diperkirakan anak-anak normal yang tumbuh di [...]

TV sebagai media komunikasi massa yang sangat disukai oleh anak-anak dapat memberikan dampak terhadap perilaku mereka. Beberapa temuan menunjukkan bahwa perilaku anak cenderung kepada tindak kekerasan. Dr. Jesse Steinfield melaporkan studinya bahwa 94,3 % film kartun menyajikan adegan kekerasan, 81, 6 % sajian-sajian prime time menyuguhkan hal serupa. Selanjutnya diperkirakan anak-anak normal yang tumbuh di tahun 60 an dan awal 1970 an telah menelan 20.000 sajian kekerasan di TV saat mereka berusia 19 tahun. Zhao Yuhui, melaporkan bahwa pada tahun 1986 ada seri TV berjudul Garrison’s Gorillas di TV China. Karena tayangan tersebut kemudian banyak bermunculan kelompok-kelom-pok Garrison’s Gorillas di SMP bahkan SD. Mereka melempar batu-batu ke jendela sekolah dan merusak bangku. Banyak guru dan orangtua protes sehingga tayangan di China Central TV tersebut kemudian distop. (Unesco, 1994).

koran-koran di Singapura melaporkan poling pendapat yang dilakukan oleh pihak kepolisian kepada 50 pemuda yang terlibat pada tindak kekerasan. Ditemukan bahwa kebanyakan dari mereka suka menikmati film-film kekerasan di TV, melihat orang-orang dipukul atau dibunuh dilayar kaca tersebut ( Unesco, 1994) Sebuah survey pernah dilakukan Christian Science Monitor (CSM) tahun 1996 terhadap 1.209 orang tua yang memiliki anak umur 2 – 17 tahun. Terhadap pertanyaan seberapa jauh kekerasan di TV mempengaruhi anak, 56% responden menjawab amat mempengaruhi. Sisanya, 26% mempengaruhi, 5% cukup mempengaruhi, dan 11% tidak mempengaruhi.  Studi tim dari Universitas Massachusetts, Amherst, AS, menemukan ketika anak-anak yang berusia tiga tahun ke bawah bermain di dalam ruangan yang ada televisi, waktu bermain mereka 5% lebih singkat ketimbang jika tidak ada televisi. Keberadaan televisi juga membuat mereka tidak fokus saat bermain. Studi yang dimuat dalam Child Development edisi Juli/Agustus itu melibatkan 50 balita yang berusia antara 12, 24, dan 36 bulan.

Dr Daniel Bronfin dari Ochsner Health System, New Orleans, mengungkapkan televisi berpotensi menaikkan risiko terjadinya gangguan perilaku pada anak-anak, seperti kesulitan memusatkan perhatian dan hiperaktivitas. American Academy of Pediatrics (AAP) menyarankan agar anak-anak berusia dua tahun atau kurang tidak diberi akses menonton televisi.

Temuan YLKI, yang juga mencatat bahwa film kartun bertemakan kepahlawanan lebih banyak menam-pilkan adegan anti sosial (63,51%) dari pada adegan pro sosial (36,49%). Begitu pula tayangan film lainnya khususnya film import membawa muatan negatif, misalnya film kartu Batman dan Superman menurut hasil penelitian Stein dan Friedrich di AS menunjukan bahwa anak-anak menjadi lebih agresif yang dapat dikatagorikan anti sosial setelah mereka menonton film kartun seperti Batman dan Superman.

Sumber :

(http://korananakindonesia.wordpress.com/2010/05/09/waspadai-gejalanya-pengaruh-kekerasan-televisi-pada-anak/)

(http://mancung64.wordpress.com/2008/08/19/pengaruh-tv-terhadap-perilaku-anak/)

.( http://www.aber.ac.uk/media/Modules/TF33120/tv-violence_and_kids.html)

(http://www.kff.org/entmedia/upload/Key-Facts-TV-Violence.pdf

Tags: ,

KIRIMKAN KOMENTAR

Email tidak kami publikasikan. Required fields are marked *

*
*

EDUKASIANA MOBILE

Edukasiana dapat juga diakses menggunakan perangkat telepon seluler yang mendukung Java

Silahkan download aplikasi Java MIDP berformat JAR berikut dan silahkan ditransfer/diinstal di ponsel Anda.

Download Edukasiana Mobile

TAG CLOUD

-->